Selasa, 01 April 2008

SurgaNya.....

Demi Allah, betapa bahagiannya berhimpun di dalamnya
Bersama kenikmatan yang tak terhingga macam dan banyaknya

Demi Allah, betapa bahagia para kekasihNya
Ketika Allah bertemu dengannya, mengajak mereka berdialog dan memberi ucapan selamat kepadanya
Tidak ada gunung yang menghalangi dan matapun tak pernah bosan memandangnya
Duhai, betapa nikmat memandang kepadaNya jika Ia datang dan jika berbicara betapa indah suaranya

Dialah Ar Rahman, zat yang telah menciptakan Surga untuk kekasihNya
Mereka hidup di dalamnya dengan aman dan tentram
Mata mereka takjub dengan aneka macam buah-buahan yang beraneka rasa dan tak pernah ada habisnya

Tandan dari buah anggur dan apel surga
Buah Delima yang lesat dari dahannya
Bangunan-bangunan surga yang menakjubkan
Taman-tamannya yang sejuk tempat bercengkrama
Sungai-sungainya yang beraneka rupa
Sungai madu, sungai susu, sungai khamar

Tidak ada di dalamnya selain kebahagiaan
Tak terdengan perkataan sia-sia apalagi yang keji
Yang ada hanya salam selamat dan puji-pujian kepadaNya
Disambut bidadari-bidadari yang bermata jeli
Bentuk tubuhnya sempurna
Kulitnya putih bersih
Betisnya indah hingga sumsum tulangnnya kelihatan
Merekalah istri-istri penghuni surga
Yang dipingit dalam kemah-kemah
Tak berlaku masa tua dan kematian baginya
Mereka cantik dan perawan selalu

Maka berbahagialah didalamnya dengan kenikmatan yang abadi
Di SurgaNya, tempat kembali yang paling baik.


Read More......

Jumat, 28 Maret 2008

Menanti Kiamat di Kubur Kita

Apa yang terbayang di benak kita ketika bercerita tentang kubur?
Mungkin bagi sebanyakan orang kubur tak lebih dari segundukan tanah di lokasi tertentu yang agak jauh dari pemukiman, dimana orang mati/jenazah ditempatkan, begitulah kira-kira orang mempersepsikan kubur itu.
Tetapi pada hakikatnya tidaklah demikian, kubur lebih dari itu, ia ibaratnya sebuah tempat persinggahan dimana setiap penghuninya menanti datangnya suatu hari yang pasti, hari ketika bumi akhirnya dihancurkan bagai anai-anai yang beterbangan. Ya, kubur adalah tempat dimana kita menantikan hari kiamat yang entah kapan.
Konon, kiamat itu sudah dekat, tapi tak jelas juga sedekat apa, apakah waktu datangnya tinggal hitungan 100, 200 tahun ataukah masih 1000, 2000 tahun, ataukah mungkin lebih dari itu? Wallahu wa’lam. Tak ada seorang manusia pun yang tahu pasti kapan datangnya kiamat itu.

Sebagai sebuah tempat penantian atau kita sebut saja sebagai sebuah rumah singgah, kubur idealnya adalah sebuah tempat yang nyaman agar masa penantian itu terasa singkat dan menyenangkan, agar kita tidak merasa bosan apalagi tersiksa. Bukan rumah di bantaran sungai yang selalu was-was kebanjiran ketika hujan, atau rumah di tepi jurang yang selalu khawatir akan terjadi longsor. Bukan pula rumah yang suasanya bagai berada di penjara apalagi jika lebih buruk dari itu.
Kubur kita ataukah rumah singgah kita, ternyata dibangun sendiri oleh kita, tidak setelah kita berada dalam kubur, tetapi ketika kita masih di dunia lewat amal-amal kita. Kita sendirilah yang ciptakan seperti apa suasana kubur kita, apakah laksana taman-taman surga ataukah bagai jurang-jurang neraka.
”Kubur itu kadangkala bagai taman-taman surga atau ia bagai jurang-jurang neraka”(al-Hadits).
Masalahnya, kubur adalah tempat penantian yang boleh jadi begitu panjang atau bahkan sangat-sangat panjang. Hitungan masa 1000, 2000 tahun atau bahkan lebih dari itu bukanlah waktu yang singkat. Melalui masa selama itu dalam keadaaan enjoy dengan suasana kubur kita yang nyaman bagai taman-taman surga tentulah bukan masalah. Tetapi jika sebaliknya, masa penantian itu harus kita lalui dengan suasana kubur yang sangat menyeramkan bagai jurang-jurang neraka, dengan siksa kubur yang tak terperih, hari-hari penuh siksa dan kesengsaraan yang panjang, tentulah merupakan masa penantian yang sangat menyiksa. Bisa dibayangkan, betapa sangat lama dan melelahkannya masa penantian seperti itu, 1 hari mungkin akan terasa satu tahun, 1 tahun mungkin akan terasa 100 tahun, lalu bagai mana jika masa penantian itu adalah 1000, 2000 tahun atau jauh lebih dari itu.
Tetapi sungguh Allah masih menyayangi kita, paling tidak ketika kita membaca artikel sederhana ini, atau ketika saya menulis artikel ini, kita masih di dunia, tempat dimana kita membangun rumah singgah di kubur kita, tempat dimana kita menciptakan sendiri seperti apakah suasananya. Suasana itu tercipta dari lisan-lisan kita, dari gerak langkah dan ayunan tangan kita, pada kemana arah pandangan mata kita, singkatnya pada amal-amal kita.
Maka mari kita duduk sejenak, membayangkan sudah seperti apakah bangunan rumah kita itu, tentu kita bisa membayangkan bagian-bagiannya, apa yang kurang dan harus kita perbaiki, apa yang harus dipertahankan atau mana yang justru harus kita hilangkan. Kubur kita sesungguhnya adalah bayang-bayang akhirat, seperti apa kondisi kubur kita maka kurang lebih sama kondisi akhirat kita, surga ataukah neraka. Maka benahilah segera, karena ajal ternyata tidak menunggu kita sampai rumah kita itu rampung seideal yang kita inginkan. Jangan sampai kita seperti orang kafir yang disinggung dalam al-Qur’an, mereka meminta kepada Allah kiranya dapat dikembalikan kedunia untuk melakukan amal-amal kebajikan, untuk memperbaiki rumah akhiratnya yang selama di dunia mereka abaikan. Tetapi saat itu dunia telah tiada, yang mereka hadapi kini adalah hari pembalasan, tak ada lagi kerja atau amal yang bisa diperbuat.
Wallahu wa’lam....

Read More......

Minggu, 09 Maret 2008

Sakaratul Maut...

Sakaratul maut adalah cerita tentang detik-detik terakhir jasad akan berpisah dengan ruh. Sebuah peristiwa yang maha dahsyat. Setiap manusia pasti akan melewatinya dan tidak ada yang dapat lolos darinya.
Sekiranya ada orang yang dapat lolos dari kematian, mungkin Rasulullah SAW lah yang paling berhak untuk itu. Namun beliau pun tidak bisa menghindar. Beliau merasakan kematian seperti halnya manusia lainnya.
Ketika menjelang kematiannya (sakaratul maut), Rasulullah SAW mengambil bajunya lalu ditutupkan kewajahnya. Keringat membasahi tubuhnya. Dalam keadaan demikian beliau berdoa:

” Ya Allah, bantu aku menghadapi sakaratul maut ini. Ya Allah, ringankan bagiku sakaratul maut ini. Tiada Tuhan selain Allah. Sesungguhnya kematian itu punya sakarat”
Jika Rasulullah SAW saja merasakan sakaratul maut sedemikian dahsyatnya, maka bagaimana dengan kita, ummatnya, yang istilahnya RAIHAN punya dosa bagai ”pepasir di pantai”. Maka doa Nabi SAW di atas mestinya lebih sering kita panjatkan.
Rahmat dan kasih sayang Allah-lah yang akan memberikan kita kemudahan dan keringanan ketika menghadapi sakatul maut itu, maka menjadi hamba-Nya yang taat adalah keniscayaan karena dari sanalah datangnya kasih sayang itu. Tentu saja tidak sama orang-orang yang menghadapi sakaratul maut dibawah kasih sayang Allah dengan orang-orang yang ketika sakaratnya berada dalam kebencian dan kemurkaan Allah SWT.

Read More......

menuju gerbang Akhirat

Hari berganti bulan, lalu berganti tahun. Begitulah waktu terus berjalan. Mereka yang kemarin masih kanak-kanak kini telah beranjak dewasa. Sedangkan yang kini telah berusia senja sebelumnya adalah orang-orang kuat dengan kesehatan yang prima dan bugar. Namun pada hakikatnya waktu yang terus bergulir itu sesungguhnya sedang mengantarkan kita pada suatu titik akhir perjalanan kita di dunia ini yakni KEMATIAN.

“Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati”(QS. Ali Imran : 185)

Kematian adalah kepastian yang akan mendatangi setiap manusia, raja atau rakyat jelata, pemimpin atau bawahan, kaya atau miskin, tua atau muda dan seterusnya. Hal yang membedakan hanyalah pada kapan dan bagaimana tiap-tiap orang menemui ajalnya. Maka ada orang mati kala masih bayi, balita, remaja, paruh baya dan diusia tua. Cara dan kondisi setiap orang dikala ajal menjemput pun beraneka rupa. Namun yang pasti adalah sebuah kehinaan jika seseorang mati tidak dalam keadaan beriman kepada Allah SWT.

”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benarnya takwa, dan janganlah kamu sekali-kali mati melainkan dalam keadan Islam” (QS. Ali Imran : 102)

Sesungguhnya hari-hari yang kita lewati dalam kehidupan kita di dunia ini teramat sangat singkat, sebagai perbandingan menurut Al-Qur’an satu hari akhirat sama dengan 1000 tahun dunia. Maka jika kita berhitung-hitung dengan usia kita di dunia ini rata-rata 60 – 70 tahun, menurut perhitungan akhirat kita hanya hidup dalam hitungan jam, tidak lebih dari 2 jam akhirat. Subhanallah....Sebuah hitungan waktu yang terlalu singkat namun sangat berharga untuk kita sia-siakan, sebab taruhannya adalah kebahagiaan yang abadi (surga) atau kesengsaraan yang panjang/abadi (neraka).
Tetapi kehidupan dunia telah banyak melenakan kita, sehingga waktu hidup kita di dunia yang singkat ini tidak kita manfaatkan dengan sebaik mungkin sebagai bekal menuju negeri akhirat. Banyak waktu yang terbuang sia-sia yang mestinya bisa dimanfaatkan untuk beribadah ke pada Allah SWT.
Nabi Nuh yang hidup lebih dari 900 tahun ditanya tentang kehidupan dunia yang telah dilewatinya ”Bagaimana engkau melihat kehidupan setelah melewati dengan usia yang begitu panjang?”. Nabi Nuh menjawab ” Aku melihatnya seolah aku masuk di sebuah rumah yang memiliki dua pintu. Aku masuk di pintu yang satu dan keluar dari pintu yang lain”
Begitu singkat, seolah beliau memasuki sebuah rumah lalu melihat-lihat sebentar isi rumah kemudian keluar lagi.
”orang yang cerdas adalah orang yang banyak berbuat untuk kehidupan setelah matinya, sedangkan orang bodoh adalah mereka yang memperturutkan hawa nafsunya” (al-Hadits)
Pada hakikatnya kematian adalah pintu untuk memasuki alam akhirat. Sebuah negeri yang akan dituju oleh setiap manusia yang pernah hidup di muka bumi ini. Kematian adalah akhir dari perjalanan singkat kita di dunia, mendulang pahala dan atau menabung dosa.

Read More......