Jumat, 28 Maret 2008

Menanti Kiamat di Kubur Kita

Apa yang terbayang di benak kita ketika bercerita tentang kubur?
Mungkin bagi sebanyakan orang kubur tak lebih dari segundukan tanah di lokasi tertentu yang agak jauh dari pemukiman, dimana orang mati/jenazah ditempatkan, begitulah kira-kira orang mempersepsikan kubur itu.
Tetapi pada hakikatnya tidaklah demikian, kubur lebih dari itu, ia ibaratnya sebuah tempat persinggahan dimana setiap penghuninya menanti datangnya suatu hari yang pasti, hari ketika bumi akhirnya dihancurkan bagai anai-anai yang beterbangan. Ya, kubur adalah tempat dimana kita menantikan hari kiamat yang entah kapan.
Konon, kiamat itu sudah dekat, tapi tak jelas juga sedekat apa, apakah waktu datangnya tinggal hitungan 100, 200 tahun ataukah masih 1000, 2000 tahun, ataukah mungkin lebih dari itu? Wallahu wa’lam. Tak ada seorang manusia pun yang tahu pasti kapan datangnya kiamat itu.

Sebagai sebuah tempat penantian atau kita sebut saja sebagai sebuah rumah singgah, kubur idealnya adalah sebuah tempat yang nyaman agar masa penantian itu terasa singkat dan menyenangkan, agar kita tidak merasa bosan apalagi tersiksa. Bukan rumah di bantaran sungai yang selalu was-was kebanjiran ketika hujan, atau rumah di tepi jurang yang selalu khawatir akan terjadi longsor. Bukan pula rumah yang suasanya bagai berada di penjara apalagi jika lebih buruk dari itu.
Kubur kita ataukah rumah singgah kita, ternyata dibangun sendiri oleh kita, tidak setelah kita berada dalam kubur, tetapi ketika kita masih di dunia lewat amal-amal kita. Kita sendirilah yang ciptakan seperti apa suasana kubur kita, apakah laksana taman-taman surga ataukah bagai jurang-jurang neraka.
”Kubur itu kadangkala bagai taman-taman surga atau ia bagai jurang-jurang neraka”(al-Hadits).
Masalahnya, kubur adalah tempat penantian yang boleh jadi begitu panjang atau bahkan sangat-sangat panjang. Hitungan masa 1000, 2000 tahun atau bahkan lebih dari itu bukanlah waktu yang singkat. Melalui masa selama itu dalam keadaaan enjoy dengan suasana kubur kita yang nyaman bagai taman-taman surga tentulah bukan masalah. Tetapi jika sebaliknya, masa penantian itu harus kita lalui dengan suasana kubur yang sangat menyeramkan bagai jurang-jurang neraka, dengan siksa kubur yang tak terperih, hari-hari penuh siksa dan kesengsaraan yang panjang, tentulah merupakan masa penantian yang sangat menyiksa. Bisa dibayangkan, betapa sangat lama dan melelahkannya masa penantian seperti itu, 1 hari mungkin akan terasa satu tahun, 1 tahun mungkin akan terasa 100 tahun, lalu bagai mana jika masa penantian itu adalah 1000, 2000 tahun atau jauh lebih dari itu.
Tetapi sungguh Allah masih menyayangi kita, paling tidak ketika kita membaca artikel sederhana ini, atau ketika saya menulis artikel ini, kita masih di dunia, tempat dimana kita membangun rumah singgah di kubur kita, tempat dimana kita menciptakan sendiri seperti apakah suasananya. Suasana itu tercipta dari lisan-lisan kita, dari gerak langkah dan ayunan tangan kita, pada kemana arah pandangan mata kita, singkatnya pada amal-amal kita.
Maka mari kita duduk sejenak, membayangkan sudah seperti apakah bangunan rumah kita itu, tentu kita bisa membayangkan bagian-bagiannya, apa yang kurang dan harus kita perbaiki, apa yang harus dipertahankan atau mana yang justru harus kita hilangkan. Kubur kita sesungguhnya adalah bayang-bayang akhirat, seperti apa kondisi kubur kita maka kurang lebih sama kondisi akhirat kita, surga ataukah neraka. Maka benahilah segera, karena ajal ternyata tidak menunggu kita sampai rumah kita itu rampung seideal yang kita inginkan. Jangan sampai kita seperti orang kafir yang disinggung dalam al-Qur’an, mereka meminta kepada Allah kiranya dapat dikembalikan kedunia untuk melakukan amal-amal kebajikan, untuk memperbaiki rumah akhiratnya yang selama di dunia mereka abaikan. Tetapi saat itu dunia telah tiada, yang mereka hadapi kini adalah hari pembalasan, tak ada lagi kerja atau amal yang bisa diperbuat.
Wallahu wa’lam....

Tidak ada komentar: