Sakaratul maut adalah cerita tentang detik-detik terakhir jasad akan berpisah dengan ruh. Sebuah peristiwa yang maha dahsyat. Setiap manusia pasti akan melewatinya dan tidak ada yang dapat lolos darinya.
Sekiranya ada orang yang dapat lolos dari kematian, mungkin Rasulullah SAW lah yang paling berhak untuk itu. Namun beliau pun tidak bisa menghindar. Beliau merasakan kematian seperti halnya manusia lainnya.
Ketika menjelang kematiannya (sakaratul maut), Rasulullah SAW mengambil bajunya lalu ditutupkan kewajahnya. Keringat membasahi tubuhnya. Dalam keadaan demikian beliau berdoa:
” Ya Allah, bantu aku menghadapi sakaratul maut ini. Ya Allah, ringankan bagiku sakaratul maut ini. Tiada Tuhan selain Allah. Sesungguhnya kematian itu punya sakarat”
Jika Rasulullah SAW saja merasakan sakaratul maut sedemikian dahsyatnya, maka bagaimana dengan kita, ummatnya, yang istilahnya RAIHAN punya dosa bagai ”pepasir di pantai”. Maka doa Nabi SAW di atas mestinya lebih sering kita panjatkan.
Rahmat dan kasih sayang Allah-lah yang akan memberikan kita kemudahan dan keringanan ketika menghadapi sakatul maut itu, maka menjadi hamba-Nya yang taat adalah keniscayaan karena dari sanalah datangnya kasih sayang itu. Tentu saja tidak sama orang-orang yang menghadapi sakaratul maut dibawah kasih sayang Allah dengan orang-orang yang ketika sakaratnya berada dalam kebencian dan kemurkaan Allah SWT.
Minggu, 09 Maret 2008
Sakaratul Maut...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
1 komentar:
tersentak sekali dengan pembahasan ini, saya pernah berpikir dan membayangkan ketika akan mendapat giliran Sakaratul maut, saya ingin terjadi di saat tertidur lelap atau sedang menunaikan kewajiban diatas sajadah... mungkinkah????
Posting Komentar